Mengenal gejala awal kanker kolorektal yang sering tidak dirasakan para penyintas




Sore ini saya mendapat kesempatan belajar tentang kanker kolorektal. Kanker kolorektal atau yang biasa orang awam sebut kanker usus ini adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Bermula dari polip yang tumbuh di sepanjang dinding permukaan dalam usus besar serta rektum. Sebagian besar penyintas awalnya tidak menyadari adanya kanker didalam tubuh lantaran tidak mengetahui gejala umum yang menyertai. Kebanyakan kanker baru diketahui ketika penyintas datang ke dokter dan melakukan pemeriksaan. Tidak jarang hasil pemeriksaannya menunjukkan stadium lanjut atau bahkan kanker sudah menyebar keseluruh organ tubuh. Salah satu jenis kanker yang sering tidak disadari kemunculannya adalah kanker kolorektal karena gejalanya sering diabaikan. 

Atas undangan dari RS. Adi Husada , http://www.ahcc.co.id Adi Husada Cancer Center (AHCC) sebagai pusat penangangan kanker terintegrasi swasta di Surabaya, dibulan Ramadhan ini menggelar acara buka puasa bersama dan health talk dengan tema " Deteksi Dini dan Hidup Bersama Kanker Usus Besar" dengan Nara sumber dr. Edwin Donardono, Sp. B - KBD. Dimana pada tahap awal kanker kolorektal sering tidak dirasakan sebagian besar para penyintas. Lantaran tidak semua menyadari gejala gejala umum yang menyertai.
https://images.app.goo.gl/s73aiUx29gAnNb8v6



Gejala kanker kolorektal seringkali dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang jauh. Jenis gejalanya tergantung kepada ukuran dan lokasi tumbuhnya kanker. Beberapa gejala yang dapat muncul, antara lain:

- Diare atau konstipasi.
- Buang air besar yang terasa tidak tuntas.
- Darah pada tinja.
- Mual.
- Muntah.
- Perut terasa nyeri, kram, atau kembung.
- Tubuh mudah lelah.
- Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.


Segera periksakan diri ke dokter bila muncul gejala di atas. Pada tahap awal, gejala kanker kolorektal sering tidak terasa. Karena itu, pemeriksaan secara rutin patut dilakukan untuk berjaga-jaga.


Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Kolorektal


Tumbuhnya sel-sel secara abnormal merupakan penyebab di balik semua kanker, termasuk kanker kolorektal. Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sel-sel tersebut berkembang secara tidak terkendali.
Meskipun penyebabnya belum diketahui, ada beberapa faktor yang dapat memicu kanker kolorektal, yaitu:


1. Usia. Risiko kanker kolorektal akan meningkat seiring bertambahnya usia. Lebih dari 90% kasus kanker kolorektal dialami oleh seseorang berusia 50 tahun atau lebih.


2. Riwayat penyakit. Seseorang dengan riwayat penyakit kanker atau polip kolorektal lebih berisiko terserang kanker kolorektal. Begitu juga seseorang dari keluarga yang pernah mengalami penyakit kanker atau polip kolorektal.


3. Penyakit genetik. Seseorang dengan penyakit yang diturunkan dari keluarga, seperti sindrom Lynch, berisiko tinggi mengalami kanker kolorektal.


4. Radang usus. Kanker kolorektal berisiko tinggi menyerang penderita kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.


5. Gaya hidup. Kurang olahraga, kurang asupan serat dan buah-buahan, konsumsi minuman beralkohol, obesitas atau berat badan berlebih, dan merokok meningkatkan risiko kanker kolorektal.


6. Radioterapi. Paparan radiasi pada area perut meningkatkan risiko kanker kolorektal.
Diabetes.


Nah Diagnosis Kanker Kolorektal seperti apa sih?


Kanker kolorektal ini bisa dideteksi sejak dini melalui sejumlah skrining. Individu berusia di atas 50 tahun disarankan untuk menjalani skrining rutin sesuai petunjuk dokter. Masing-masing skrining memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, konsultasi dengan dokter penting untuk dilakukan sebelum memilih skrining yang tepat bagi pasien.


Berbagai macam skrining untuk kanker kolorektal, antara lain:
1. Pemeriksaan tinja yang meliputi Fecal occult blood test (FOBT) atau tes      darah samar.
2. FIT-DNA test, yaitu tes FIT yang digabungkan dengan tes untuk mendeteksi perubahan DNA pada feses. Pemeriksaan ini dilakukan tiap 1-3 tahun sekali.

Sigmoidoskopi. Prosedur ini memasukkan selang tipis yang dilengkapi lampu dan kamera (sigmoidoskop) dari anus ke bagian bawah kolon, untuk melihat apakah terdapat polip atau kanker. Alat ini juga dilengkapi instrumen untuk membuang polip atau mengambil sampel jaringan guna diperiksa di mikroskop (biopsi). Tes ini dilakukan tiap 5-10 tahun sekali, disertai tes FIT tiap tahun.


Kolonoskopi. Prosedur ini sama seperti sigmoidoskopi, namun menggunakan selang yang lebih panjang untuk memeriksa bagian dalam rektum dan seluruh bagian usus besar. Bila dalam tes diketahui ada polip atau kanker, dokter akan membuang polip atau kanker tersebut. Kolonoskopi disarankan untuk dilakukan tiap 10 tahun sekali.


CT kolonografi (kolonoskopi virtual). Pemeriksaan ini menggunakan mesin CT scan untuk menampilkan gambar usus besar secara keseluruhan, untuk kemudian dianalisis. Tes ini dilakukan setiap 5 tahun sekali.


Komentar

Postingan Populer